Rabu, 13 April 2011

R PP BAHASA INDONESIA SEMESTER GENAP KELAS 9 -- 24


RPP 24


Nama Sekolah                    :    UPTD SMP Negeri 1 Boyolangu
Mata Pelajaran                    :    Bahasa dan Sasatra Indonesia
Kelas/Semester                   :    IX/2
Standar Kompetensi           :    11.   Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat.
Kompetensi Dasar              :    11.1Menentukan gagasan dari beberapa artikel dan buku  melalui kegiatan membaca ikstensif.
Indikator                             :    1.     Mampu menentukan gagasan dari artikel tentang permasalahan lingkungan hidup
                                                2.     Mampu menemukan gagasan dari buku tentang permasalahan lingkungan hidup
                                                3.     Mampu mengutip pernyataan dari artikel atau buku tentang permasalahan lingkungan hidup sebagai referensi dalam penulisan karya tulis
Waktu                                 :    2 x 40’

A.  Tujuan Pembelajaran
            a. Setelah membaca artikel atau buku tentang permasalahan lingkungan hidup, siswa dapat menentukan   gagasan artikel
             b. Setelah membaca buku atau artikel  tentang permasalahan lingkungan hidup, siswa dapat mengutip pernyataan-pernyataan sebagai referensi dalam penulisan karya tulis
     
B.  Materi Pembelajaran
Cara menemukan gagasan dalam wacana dan implementasinya

Artikel 1

Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (Bagai Dua Sisi Mata Uang)


"Dalam pengelolaan sumber daya alam ini benang merahnya yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber daya alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi-generasi di masa depan."Membahas tentang sumber daya alam, dapat kita bagi ke dalam dua kategori besar, yakni sumber daya alam yang bisa diperbaharui (seperti hutan, perikanan dan lain-lain). Dan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, seperti, minyak bumi, batubara, timah, gas alam dan hasil tambang lainnya. Dalam tulisan ini akan kita kaji sumber daya alam berupa hasil tambang dan itu tidak dapat diperbaharui. Membicarakan hasil tambang, tentu timah merupakan salah satunya.

Apalagi timah sangat identik dari sebuah ciri khas sebuah propinsi yang bernama Bangka Belitung. Siapa yang tidak kenal negeri kita jika kita katakan merupakan salah satu pulau penghasil timah di republik ini. Namun, berbicara tentang pengelolaan hasil tambang berupa timah itu sendiri, rasanya sangat malu melihat bagaimana permukaan negeri ini yang telah hancur dan membentuk kolong-kolong kecil sehingga membentuk seperti sebuah danau-danau kecil. Apalagi butuh cost yang sangat mahal untuk reklamasi lahan minimal mengurangi dampak buruk pada masa yang akan datang. Siapa yang akan disalahkan? Bukan pertanyaan itu yang mesti kita jawab.

Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi dan apa yang mesti kita perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik untuk kelestarian sebuah lingkungan hidup. Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan “perut” hal inilah mungkin yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam sehingga merusak lingkungan. Jika kita amati bahwa dapat kita katakan ada hubungan antara jumlah dan macamnya sumber daya alam dengan produk bagi konsumsi masyarakat. Hubungan tersebut terlihat bahwa semakin besar pola konsumsi masyarakat maka semakin banyak pula sumber daya alam yang akan dikelola dan semakin beraneka ragam pola konsumsi masyarakat, maka semakin bermacam pula sumber daya alam yang akan dikelola.

Dari permasalahan tersebut di atas, dapat kita telaah dan mungkin harus menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap arif terhadap lingkungan sebelum lingkungan itu sendiri yang memberitahu kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah tangan manusia itu sendiri. Kita amati bagaimana sebuah bencana banjir yang terjadi di Aceh & Sumatera Utara yang diakibatkan penggundulan Taman Nasional, Gunung Leuser, Alikodra (7/12/2006) atau di negeri Serumpun Sebalai sendiri, beberapa minggu terakhir terjadinya banjir yang menggenangi daerah Semabung, Pangkalpinang akibat tidak ada lagi yang menjadi penyerap air di daerah sekitarnya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kawasan hutan memiliki kemampuan dalam mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah.

Berbicara sumber daya alam tentu tak lepas dari peran sebuah teknologi tepat guna untuk sebuah kelestarian lingkungan. Untuk itu, pengusaha harus dapat memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif dari kepada lingkungan. Apalagi jika kita lihat kebijakan penataan ruang daerah dilakukan dengan tujuan untuk mampu menciptakan pemanfaatan ruang wilayah yang berimbang, optimal dan berwawasan lingkungan untuk kepentingan masyarakat luas. Kita tidak dapat menutup mata, bagaimana pemanfaatan teknologi berupa alat berat pada sektor pertambangan, yang secara seporadis membabat habis hutan untuk mencari hasil tambang yang terkadang hasilnya nihil atau 0%. Kepada siapa kita akan bertanggung jawab? Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada mereka?

Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya solusi-solusi yang mungkin akan ada tindak lanjut ke depannya. Pertama, pemerintah harus lebih giat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Kedua, perlunya inventarisasi dan Evaluasi potensi SDA dan lingkungan hidup. Ketiga, meningkatkan penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan terutama untuk pengembangan pertanian, industri dan kesehatan. Keempat, penyediaan Infra Struktur dan Spasial SDA dan Lingkungan Hidup baik di darat, laut maupun udara. Kelima, Perlunya persyaratan AMDAL terhadap usaha-usaha yang mengarah pada keseimbangan hidup. Terakhir, perlunya penyuluhan dan kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan SDA serta perlunya peningkatan kemampuan Institusi dan SDM Aparatur Pengelolaan SDA dan LH. Karena pembangunan yang baik adalah yang berwawasan lingkungan walaupun terkadang dengan kemungkinan kerusakan untuk ditimbang dan dinilai manfaat untung ruginya dan diambil keputusan dengan penuh tanggung jawab kepada generasi mendatang. Karena generasi yang akan datang, tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan sekarang dalam menentukan penggunaan sumber daya alam yang sebenarnya kita hanya meminjami dari mereka untuk pembangunan masa kini dengan dampak pembangunan di masa nanti!

Written By : Darus Altin
Dosen Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

Artikel 2

Masalah Banjir, Akibat Ulah Manusia

Setiap tahun masalah banjir selalu terjadi di berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari ujung Sumatera hingga Papua. Dari wilayah terpencil hingga ibu kota negara.
Secara geografis, wilayah Indonesia memang “dikepung” oleh air. Di Pulau-pulau Indonesia terdapat banyak sungai besar kecil, danau, dan telaga. Belum lagi lautan dan samudera yang mengelilingi wilayah kepulauan Indonesia. Kondisi geografis seperti ini sebenarnya tak serta-merta menjadikan masalah banjir sebagai sesuatu yang pasti terjadi. Masalah banjir lebih sering terjadi karena ulah manusia.
Ulah Manusia Penyebab Banjir
Tak seperti gempa bumi, topan badai, atau gunung meletus yang murni merupakan bencana alam, kebanyakan masalah banjir bukan terjadi semata-mata karena bencana alam. Artinya, banjir ini terjadi karena ada perbuatan manusia yang menyebabkannya.
  • Penggundulan Hutan
Dulu, Indonesia bisa membanggakan diri sebagai paru-paru dunia. Namun kini, sudah tak pada tempatnya jika Indonesia terus membanggakan diri. Tinggal 30% hutan Indonesia yang berada dalam keadaan baik, selebihnya sudah mengalami kerusakan.
Kerusakan hutan ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada tangan-tangan serakah manusia yang menebang pohon-pohon di hutan itu. Ada yang berbekal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dari pemerintah, ada pula yang merupakan penebangan liar. Penebangan hutan ini hanya berorientasi pada kepentingan hari ini dan tidak memikirikan masa depan.
Menebang satu pohon mungkin hanya memakan waktu setengah jam, tapi menumbuhkan benih hingga menjadi pohon berukuran sama besar dengan pohon yang ditebang, membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ini pun nyaris tak pernah dilakukan.
Hutan yang gundul menyebabkan air hujan yang jatuh tak dapat diserap. Air hujan ini terus mengalir mencari tempat yang rendah. Banjir pun terjadi di daratan yang lebih rendah. Tak jarang banjir ini berupa banjir bandang yang membawa serta lumpur, potongan-potongan kayu, hingga bongkah-bongkah batu.
  • Pendangkalan Sungai
Masalah banjir juga bisa terjadi karena pendangkalan sungai. Pendangkalan ini bisa terjadi karena endapan lumpur yang terbawa dari daerah yang lebih tinggi atau karena tumpukan sampah.
Di Bandung misalnya, 20% dari sampah dan limbah domestik  yang dihasilkan setiap hari dibuang ke sungai. Angka ini setara dengan 7000 meter kubik. Pendangkalan sungai ini jelas mengurangi kemampuan sungai untuk menampung air, akhirnya air dari badan sungai meluap ke daratan.
  • Perubahan Peruntukan Bantaran Sungai
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, bantaran sungai yang seharusnya menjadi area penghijauan dan pencegah banjir atau erosi telah berubah menjadi tempat pemukiman warga. Perubahan peruntukan ini ditambah dengan perilaku warga yang membuang sampah ke sungai, membuat masalah banjir di perkotaan semakin parah.
  • Tak Berfungsinya Saluran Pembuangan Air
Saluran pembuangan air seperti selokan sering tak berfungsi. Selain sempit, tersumbat sampah, juga mengalami pendangkalan. Akibatnya ketika hujan turun, air pun akan meluber.
  • Hilangnya Lahan Terbuka
Dengan alasan agar tak becek atau supaya tampak lebih bersih, banyak warga yang memplester halaman, jalan, atau gang dengan semen. Akibatnya ketika hujan turun, air yang tak dapar diserap oleh tanah ini akan menggenang di mana-mana. Penggunaan paving block masih lebih baik daripada menutup semua permukaan tanah.
 Tanggung Jawab Bersama
Manusia yang bersama-sama menjadi penyebab terjadinya masalah banjir, jadi manusia pula yang harus bersama-sama menanggulanginya. Penanganan masalah banjir tak dapat dilakukan oleh pemerintah saja tanpa peran serta masyarakat, demikian pula sebaliknya. Saling tuding dan menyalahkan tidak akan membawa solusi. Lebih baik bekerja sama agar tak terus didatangi banjir setiap tahun.


C.  Metode
1.   Inkuiri
2.   Tanya jawab
3.   Diskusi

D.  Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

1.   Kegiatan awal
a.   Guru menanyakan apakah siswa pernah membaca artikel atau buku tentang permasalahan  lingkungan hidup
b.   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran

2.   Kegiatan Inti
a.   Siswa berkelompok 4-5 orang
b.   Siswa membaca dan mencermati teks artikel tentang permasalahan lingkungan hidup yang diberikan oleh guru.
c.   Siswa mencari dan mengutip gagasan dari artikel atau buku tentang permasalahan lingkungan hidup
d.   Siswa mengutip pernyataan dari artikel atau buku tentang permasalahan lingkungan hidup sebagai referensi dalam penulisan karya tulis
e.   Salah satu siswa mewakili kelompoknya membacakan hasil diskusi.
f.    Siswa kelompok lain memberikan tanggapan atau masukan dan mengajukan pertanyaan.

3.   Kegiatan Penutup
a.   Siswa dan guru merefleksi hasil belajar.
b.   Siswa mencari artikel atau buku dan mengutip pertanyaan-pertanyaan sebagai sumber referensi karya tulis.

E. Sumber Belajar
1.   Koran
2.   Buku teks Bahasa Indonesia
3.   Buku referansi

F.   Penilaian
a.   Teknik                         : Tes 
b.   Bentuk Instrumen       : Tes lisan/tulis
c.   Instrumen

1)      Tunjukan gagasan penulisan yang terdapat di dalam artikel “ Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (Bagai Dua Sisi Mata Uang)”  berikut!

2)      Kutiplah pernyataan-pernyataan dari artikel “Masalah Banjir, Akibat Ulah Manusia” sebagai referensi dalam menyusun karya tulis!


Pedoman Penilaian

No.
Aspek
Skor  
Skor maks
1
Tiga kutipan benar
5
5
2
Dua kutipan benar
3

3
Satu kutipan benar
1


Jumlah  
5

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:

Nilai =
Jlm Skor diperoleh
 x Skor ideal (100) =…...
Skor maksimal (10)






Mengetahui,

Kepala UPTD SMP Negeri 1 Boyolangu                               Guru Mata Pelajaran,





Drs.H. MOHTAROM, M.Pd.                                                 Budi Harsono,M.Pd    
Pembina Tk.I                                                                     NIP 19650308 198412 1001      
NIP 19591103 198103 1 007



           















 RPP 25


Nama Sekolah                    :    UPTD SMP Negeri 1 Boyolangu
Mata Pelajaran                    :    Bahasa dan Sasatra Indonesia
Kelas/Semester                   :    IX/2
Standar Kompetensi           :    11.   Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat.
Kompetensi Dasar              :    11.3Menentukan gagasan utama suatu teks dengan membaca ± 300 kata permenit
Indikator                             :    1.     Mampu mengukur kecepatan membaca teks yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup untuk diri sendiri dan teman.
                                                2.     Mampu menjawab pertanyaan bacaan tentang permasalahan lingkungan hidup dengan peluang ketepatan 75%
                                                3.     Mampu menyimpulkan gagasan utama suatu teks yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup
Waktu                                 :    2 x 40’

A.  Tujuan Pembelajaran
a. Setelah diberikan teks yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup, siswa dapat    mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman.
b. Setelah diberikan pertanyaan bacaan tentang permasalahan lingkungan hidup, siswa dapat menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%
c. Setelah membaca teks yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup, siswa dapat menyimpulkan gagasan utama teks.

B.  Materi Pembelajaran
Penyimpulan teks bacaan dengan membaca cepat ± 300 kata per menit.

TEKS

Oleh Bharata Kalbuaji 

Pestisida Merusak Lingkungan

Selama ini, kita mengetahui bahwa pestisida sangat berguna dalam membantu petani merawat pertaniannya. Pestisida dapat mencegah lahan pertanian dari serangan hama. Hal ini berarti jika para petani menggunakan pestisida, hasil pertaniannya akan meningkat dan akan membuat hidup para petani menjadi semakin sejahtera. Dengan adanya pemahaman tersebut, pestisida sudah digunakan di hampir setiap lahan pertanian.
Tetapi, dibalik manfaatnya yang besar, akhirnya para peneliti menyadari bahwa pestisida memiliki dampak yang cukup merugikan pada pemakaiannya. Setelah diteliti, pestisida dapat merusak ekosistem air yang berada di sekitar lahan pertanian. Mengapa demikian? Jika pestisida digunakan, akan menghasilkan sisa-sisa air yang mengandung pestisida. air yang mengandung pestisida ini akan mengalir melalui sungai atau aliran irigasi dan dapat menyuburkan ganggang di perairan tempat sungai atau irigasi tadi bermuara.
Dengan suburnya ganggang, dapat mengakibatkan cahaya matahari sulit untuk masuk ke dalam danau. Ini mengakibatkan hewan-hewan ataupun fitoplankton tidak mendapat cahaya. Jika fitoplankton tidak mendapat cahaya, maka tidak akan dapat berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan air.
Selain merusak ekosistem, pestisida juga dapat mengganggu kesehatan terutama kesehatan petani. Dengan seringnya menggunakan pestisida, maka kontak kulit dengan pestisida juga akan semakin sering dan dapat mengakibatkan iritasi kulit. Atau jika pestisida terhirup dan masuk paru-paru, dapat mengganggu kesehatan pernafasan.
Dengan adanya dampak buruk dari pestisida, para petani lebih dianjurkan menggunakan sistem pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Tetapi pertanian dengan metode ini juga memiliki resiko yaitu rentan untuk terserang hama. Tetapi hasil dari pertanian ini sangat sehat dan tidak akan mengganggu kesehatan.
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa resiko kanker pada oarang-orang yang merokok disebabkan oleh penggunaan pestisida pada saat menanam tembakau. Jika kita membandingkan orang-orang zaman dahulu, walaupun mereka perokok, tetapi mereka tetap sehat dan tidak mengalami penyakit kanker. Kemungkinan ini disebabkan karena zaman dahulu belum digunakannya pestisida saat menanam tembakau.
Oleh karena itu, para petani diharapkan tidak terlalu banyak menggunakan pestisida dan melakukan pertanian organik. Pertanian organik ini sangat bermanfaat dan tidak memiliki efek samping yang membahayakan bagi lingkungan maupun tubuh.

C.  Metode
1.   Modeling
2.   Tanya jawab
3.   Diskusi

D.  Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

1.   Kegiatan awal
a.   Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai tujuan pembelajaran
b.   Siswa memperhatikan cara kerja yang akan dilaksanakan dalam kegiatan membaca cepat.

2.   Kegiatan Inti
a.   Siswa menerima teks bacaan yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup yang terdiri ± 300 kata atau kelipatannya.
b.   Secara berpasangan, siswa bergantian membaca teks bacaan yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup dan yang lain mengukur kecepatan membacanya.
c.   Siswa menjawab pertanyaan bacaan yang sudah disiapkan oleh guru.
d.   Siswa menyimpulkan gagasan utama bacaan yang dibacanya.
e.   Siswa menukarkan pekerjaan kemudian memeriksa hasil kerja siswa lain.
f.    Siswa bersama guru membuat simpulan yang benar.
3.   Kegiatan Penutup
a.   Siswa dan guru merefleksi hasil belajar.
b.   Siswa diberi tugas mencari teks bacaan tentang lingkungan hidup yang lain dan kemudian menyimpulkan gagasan utamanya.

E. Sumber Belajar
1.   Surat Kabar / Majalah
2.   Buku teks Bahasa Indonesia


F.   Penilaian
a.   Teknik                         : Tes 
b.   Bentuk Instrumen       : Tes lisan/tulis
c.   Instrumen

a)   Ukurlah kecepatan membaca temanmu!

Jawablah pertanyaan berikut ini!
    1. Apa guna pestisida bagi para petani?
    2. Apa dampak buruk pestisida bagi petani?
    3. Penyakit apakah yang bisa ditimbulkan oleh pemakaian pestisida?
    4. Apakah pengaruh pestisida bagi kehidupan hewa-hewan ataupun fitoplankton?
    5. Apa kelemahan sistem pertanian organik?
    6. Apa hasil penelitian yang berhubungan dengan penggunaan pestisida?
    7. Di lahan manakah petani menggunakan pestisida?
    8. Apa akibat ganggang yang subur terhadap kehidupan lain di suatu perairan?
    9. Berdasarkan hasil penelitian, apa perbedaan perokok zaman dulu dan sekarang bila dikaitkan dengan penggunaan pestisida?
    10. Mengingat resiko pestisida yang sangat besar bagi petani, apa solusi yang ditawarkan kepada petani terhadap lahan pertaniannya?

Rubrik Penilaian
1.   Secara berpasangan, ukurlah kecepatan membaca temanmu dengan jam/stopwatch!
2.   Jawablah Pertanyaan-pertanyaan berikut!



No.
Jawaban Benar
Atas Pertanyaan
A
B
C
D
E
Jumlah
1
Apa guna pestisida bagi para petani?






2
Apa dampak buruk pestisida bagi petani?






3
Penyakit apakah yang bisa ditimbulkan oleh pemakaian pestisida?






4
Apakah pengaruh pestisida bagi kehidupan hewan-hewan ataupun fitoplankton?






5
Apa kelemahan sistem pertanian organik?






6
Apa hasil penelitian yang berhubungan dengan penggunaan pestisida?






7
Di lahan manakah petani menggunakan pestisida?






8
Apa akibat ganggang yang subur terhadap kehidupan lain di suatu perairan?






9
Berdasarkan hasil penelitian, apa perbedaan perokok zaman dulu dan sekarang bila dikaitkan dengan penggunaan pestisida?






10
Mengingat resiko pestisida yang sangat besar bagi petani, apa solusi yang ditawarkan kepada petani terhadap lahan pertaniannya?







Jumlah







Keterangan :
A      = 4 : Kalimat jawaban sempurna dan benar
B      = 3 : Kalimat jawaban tidak sempurna tetapi benar
C      = 2 : Kalimat jawaban sempurna tetapi salah
D      = 1 : Kalimat jawaban tidak sempurna dan salah
E       = 0 : Tidak dijawab.


Nilai =
Jlm Skor diperoleh
 x 100 =…...
Jumlah Skor maksimal (40)





Mengetahui

Kepala UPTD SMP Negeri 1 Boyolangu                               Guru Mata Pelajaran





Drs.H. MOHTAROM, M.Pd.                                          Budi Harsono,M.Pd        
Pembina Tk.I                                                                   NIP 19650308 198412 1001          
NIP 19591103 198103 1 007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar